Voc Parenting
Voc Parenting

Voc Parenting

Didikan Keras Orang Tua Zaman Dulu dan Dampaknya terhadap Anak di Masa Sekarang

“Banyak orang tua berpikir didikan keras akan membuat anak jadi kuat. Padahal, tidak semua anak tumbuh baik dari rasa takut.”

Pengertian Voc Parenting

Dulu, pola asuh keras sering dianggap hal yang normal dalam keluarga. Anak harus nurut sama orang tua, nggak boleh banyak membantah, dan harus mengikuti semua aturan tanpa banyak bertanya. Kalau salah sedikit dimarahi, kalau menangis dibilang cengeng, dan kalau mencoba menjelaskan malah dianggap melawan.

Pola pengasuhan seperti ini sering disebut sebagai voc parenting, yaitu pola asuh yang terlalu keras terhadap anak, baik lewat ucapan maupun perlakuan. Dalam pola asuh ini, bentakan, ancaman, hukuman, atau kata-kata yang merendahkan sering dianggap sebagai bentuk didikan supaya anak jadi disiplin dan nggak manja.

Kalimat seperti:

“Anak harus takut sama orang tua.”

“Kalau nggak keras nanti anak jadi bandel.”

“Saya dulu juga dididik kayak gini.”

masih sering banget terdengar sampai sekarang. Bahkan di media sosial seperti TikTok, masih banyak orang yang membela pola asuh seperti ini. Banyak yang bilang anak zaman sekarang terlalu lembek atau terlalu sensitif. Mereka percaya kalau didikan keras adalah cara terbaik supaya anak kuat menghadapi kehidupan. Padahal, anak yang terlihat diam dan nurut belum tentu merasa baik-baik saja.

Dampak Voc Parenting terhadap Anak

Banyak orang mengira didikan keras cuma akan membuat anak jadi lebih disiplin. Tapi kenyataannya, pola asuh seperti ini sering meninggalkan dampak yang jauh lebih dalam. Anak yang tumbuh dalam voc parenting biasanya jadi terbiasa hidup dalam rasa takut. Takut salah, takut dimarahi, takut mengecewakan orang tua, bahkan takut jadi diri sendiri.

Ada anak yang akhirnya jadi susah percaya diri karena sejak kecil sering dibanding-bandingkan dengan anak lain. Ada juga yang jadi sulit mengungkapkan pendapat karena setiap bicara selalu dianggap melawan. Yang lebih sedih, banyak anak jadi terbiasa memendam perasaannya sendiri. Mereka merasa percuma bercerita karena ujung-ujungnya akan dimarahi atau tidak dipahami.

Makanya sekarang banyak anak muda di TikTok yang mulai cerita tentang luka dari pola asuh keras yang mereka alami waktu kecil. Ada yang bilang sampai sekarang masih takut kalau dengar nada tinggi. Ada juga yang mengaku rumah tidak pernah terasa nyaman buat bercerita. Hal-hal seperti itu sering dianggap sepele oleh orang tua, padahal bisa terus terbawa sampai anak dewasa.

Solusi Mengurangi Voc Parenting

Bukan berarti orang tua nggak boleh tegas. Tapi tegas dan kasar itu beda. Anak tetap bisa diajarkan disiplin tanpa harus dibentak terus-menerus atau direndahkan. Kadang yang anak butuhkan sebenarnya sederhana: didengarkan dan dipahami. Orang tua bisa mulai dari hal kecil, seperti mendengarkan cerita anak tanpa langsung marah, berhenti membandingkan anak dengan orang lain, dan mencoba memahami perasaan anak meskipun terlihat sepele.

Kalimat sederhana seperti:

“Coba cerita dulu.”

atau

“Aku ngerti kamu lagi sedih.”

bisa membuat anak merasa lebih aman dan dihargai. Mengubah pola asuh memang nggak mudah, apalagi kalau dari dulu terbiasa dididik dengan cara keras. Tapi bukan berarti nggak bisa berubah. Justru dengan belajar memahami anak, hubungan dalam keluarga bisa jadi lebih sehat dan lebih dekat.

Penutup

Banyak orang tua sebenarnya keras karena mereka juga dibesarkan dengan cara yang sama. Mereka mengira rasa takut adalah bentuk hormat, padahal anak yang takut belum tentu merasa dicintai. Anak bukan cuma butuh makan, sekolah, atau fasilitas. Mereka juga butuh rasa aman, butuh didengar, dan butuh merasa bahwa rumah adalah tempat yang nyaman untuk pulang. Karena pada akhirnya, anak mungkin lupa apa yang pernah diberikan orang tuanya. Tapi mereka akan selalu ingat bagaimana mereka diperlakukan selama tumbuh di rumahnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *